(Sebuah Surat dari Siti Afina Zahrah tk.2 Akuntansi)
Usai
perkuliahan, saya pernah berdiskusi dengan beberapa dosen yang telah cukup lama
berkecimpung di dunia birokrasi. Ketika saya tanyakan permasalahan apa yang perlu
mendapat perhatian dalam birokrasi di Kementrian Keuangan saat ini, jawaban
mereka adalah kompetensi kerja para PNS. Pernyataan dosen-dosen saya ini bukan
tanpa dasar. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi mengungkapkan bahwa 95% dari PNS di Indonesia tidak
memiliki kompetensi kerja di bidangnya (ANTARA news). Miris memang, mengingat
PNS adalah pelayan masyarakat yang seharusnya dapat melayani masyarakat dengan
kemampuan terbaiknya yang disesuaikan dengan pekerjaan yang diemban.
Penyebabnya adalah, selain maraknya kasus suap dan nepotisme
dalam pengangkatan calon PNS yang sudah menjadi rahasia umum, mental “pelayan”
yang belum terbentuk dalam diri masing-masing PNS dan ketidaksiapan para
lulusan perguruan tinggi untuk langsung terjun ke dunia kerja di pemerintahan
juga menjadi salah satu akar permasalahan. Untuk dua masalah terakhir, saya
ingin mengajukan beberapa usulan.
Pertama, semua calon PNS diambil dari mahasiswa sekolah
kedinasan. Semua disini memiliki makna, mahasiswa perguruan tinggi negeri dan
swasta tidak memiliki akses sama sekali untuk masuk ke pemerintahan. Mungkin
kebijakan ini akan menuai banyak kritik dan protes, namun menurut saya, mental
menjadi PNS yang adalah pelayan masyarakat harus sudah tertanam sejak sebelum
masa kuliah. Oleh karena itu, bagi pelajar yang benar-benar ingin menjadi
pelayan masyarakat, silakan untuk mempersiapkan diri mengikuti tes masuk ke
sekolah kedinasan yag merupakan pintu gerbang menuju calon PNS.
Kedua, setiap sekolah kedinasan yang ada di bawah naungan
kementerian masing-masing, menempatkan mahasiswanya di kelas yang sesuai dengan
instansi yang akan ditempati saat lulus nanti. Kita ambil contoh di STAN, tidak
ada lagi kelas akuntansi, perpajakan, kebendaharaan negara, PPLN, PBB, atau pun
Bea Cukai. Kelas dinamakan sesuai dengan nama instansi, misalnya kelas BKF,
kelas Bapepam-LK, kelas BPK, dan seterusnya. Mata kuliah yang diajarkan pun
disesuaikan dengan skill yang dibutuhkan saat nanti bekerja di instansi
tersebut. Ini bisa menghemat anggaran negara untuk mengadakan pelatihan bagi
pegawai baru di instansi-instansi, karena banyak dari mahasiswa yang tidak
ditempatkan sesuai dengan spesialisasi yang dipelajarinya dulu. Ini juga dapat
melatih fokus mahasiswa untuk benar-benar mempertajam skill nya karena mereka
tahu, bahwa yang sedang mereka pelajari adalah yang akan sangat mereka butuhkan
saat bekerja nanti. Bagaimana cara menempatkan mahasiswa pada kelas-kelas
tersebut? Adakan saja tes untuk penempatan kelas, bisa berupa tes minat dan
bakat, sekaligus tes pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam kelas itu,
misalnya, tes untuk masuk ke kelas BKF dan Bapepam lebih ditekankan pada
analisis masalah, karena saat bekerja nanti, mereka akan banyak berkecimpung
dalam dunia tersebut.
Ketiga, praktik kerja lapangan yang menjadi syarat kelulusan
bagi para mahasiswa di sekolah kedinasan diperpanjang waktunya, menjadi satu
atau dua semester. Mereka tidak hanya dibebani tanggung jawab untuk praktik
kerja di calon instansi mereka saja, tetapi juga tanggung jawab sosial, dimana
masing-masing dari mereka wajib berpartisipasi dalam kegiatan sosial apa saja
di lingungan sekitar dia melakukan PKL. Mengapa ini harus dilakukan? Disini lah
tempat para mahasiswa membentuk mental pelayan masyarakat mereka. Bersentuhan
langsung dengan masyarakat sipil akan membuat para mahasiswa calon abdi negara
ini mengerti, mengapa mereka dituntut untuk menjadi pelayan masyarakat yang
benar dan tidak mengkhianati amanat rakyat. Praktik Kerja Sosial Lapangan ini
adalah puncak dari proses yang akan ditempuh oleh masing-masing mahasiswa untuk
mematangkan diri bekerja di pemerintah.
Dengan beberapa cara di atas, selain penempatan pegawai yang
tidak sesuai dengan kompetensinya dapat diminimalisir dengan pemusatan sistem
belajar, pelayanan kepada masyarakat oleh para PNS juga dapat ditingkatkan
dengan kuatnya mental “pelayan dan pengabdi negara” yang telah dimiliki oleh
masing-masing PNS. Permasalah kompetensi kerja pun, sedikit demi sedikit dapat
teratasi.
Siti Afina Zahrah
Sekolah Strategi Indonesia Jilid I

admin, nama saya salah, bukan SITI AFINAH ZAHRA, tapi SITI AFINA ZAHRAH
ReplyDeleteperbaiki dong -___-
Sudah kakak, admin minta maaf kakak :) admin juga manusia :)
ReplyDeleteiya makasih ya min
ReplyDelete