Tuesday, March 20, 2012

Attitude, Aptitude and Altitude

(Sebuah Surat dari Danang Syaefrudin, Tk.2 Pajak)

 


Pajak,Pajak,Pajak dan Pajak, Itu yang menjadi major saya di STAN, kampus yang terkenal akhir-akhir ini berkat keberadaan Pajak di negeri ini,Indonesia.
Sayang, Pajak bukan diekspos karena keberadaannya yang mampu menghidupi lebih dari 75% kebutuhan negeri ini yakni sekitar 800 Trilliun per tahun, tapi Pajak diekspos karena kepincangan-kepincangan yang dikarenakan para pegawainya. Tak usah dijelaskan pun ketika seorang mendengar kata Pajak maka ia akan menggeneralisasikannya dengan penyakit lama negeri ini,KORUPSI. Mungkin itu wajar. Mereka kesal dan mereka marah pada Pajak dan tentunya para pegawainya juga. Ini semata-mata bukan berarti mereka benci,tapi sebaliknya mereka sayang mereka merindukan negeri yang gemah ripah loh jinawi, penuh kesejahteraan dan kemakmuran di setiap sudut negeri.
                Tak khayal, banyak pejabat yang mengambil jalan cepat mencapai tujuan meski sudah ada standar operating procedures(SOP) yang begitu komprehensif disetiap tindakan.  Ini yang sebenarnya perlu dipertanyakan, kalau memang pejabat atau pegawai pemerintahan ingin jalan yang lebih cepat,kenapa  SOP-SOP ini tidak segera diperbaiki. Toh juga banyak yang memotong alur SOP karena ada yang berpikir kalau ada yang pendek dan cepat kenapa harus pakai yang panjang dan lama. Dewasa ini, persoalan yang mungkin sepele ini tidak bisa lagi dijadikan pekerjaan rumah seperti yang selalu diungkapkan pers kepada perbaikan pemerintah. Tidak ada lagi waktu untuk menunda-nunda setiap persoalan di negeri ini. Kalau SOP saja inginnya yang cepat,kenapa seringkali memperpanjang dan menunda setiap penyelesaian permasalahan-permasalahan.
                Peran bangsa pun sangat diperlukan disini, acapkali mereka melalaikan apa yang menjadi harapannya. Mereka bertindak hal-hal kecil diluar yang seharusnya. Mereka berseru di jalan-jalan No more corruptors! Stop corruption! ,tapi apa yang terjadi ketika mereka gagal menerima surat izin mengemudi? Mereka yang memulai memberikan sepotong ikan segar kepada kucing rumah yang setiap harinya hanya makan sereal. Ya tepat,mereka tidak korupsi tapi mereka menyuap. Bukankah itu sama halnya? Tapi yang paling menyeramkan dari bangsa ini yang paling berbahaya adalah being late. Entah itu acara yang dibuat sendiri maupun acara orang lain. Bahkan hal itu sudah menjadi label tersendiri bagi bangsa Indonesia dimata dunia. Kecil tapi berarti.
                Benci atau sayang? Saya yakin, kita semua sayang Indonesia. Jangan hanya kata ‘sayang’ saja. Dalami rasa sayang itu. Bukan saatnya untuk selalu membenci  negeri ini, bukan saatnya untuk mengutuknya dengan cercaan-cercaan bodoh yang pada akhirnya hanya akan menunjukkan jati diri bak melihat gambaran diri di cermin. Memang benar adanya bahwa suatu hal besar itu selamanya bermula dari hal kecil. Diri sendiri adalah kunci perbaikan bangsa ini. Dengan demikian sikaplah ‘attitude’ yang akan menjadi ujung,bukan bakat,kepintaran,maupun kecerdasan ‘aptitude’ saja untuk menuju derajat ketinggian ’altitude’ bangsa.
 " It is your attitude, not your aptitude that determines your altitude." [Zig Ziglar]
Jauhkan rasa acuh,dendam,iri,dan pamrih. Tumbuhkan keikhlasan,jujur,disiplin,dan saling menghargai. Bukankah sejak kita di sekolah dasar selalu diajarkan ajaran moral tersebut? 

No comments:

Post a Comment