(Sebuah Surat dari Danang Syaefrudin, Tk.2 Pajak)
Pajak,Pajak,Pajak dan Pajak, Itu yang
menjadi major saya di STAN, kampus yang terkenal akhir-akhir ini berkat
keberadaan Pajak di negeri ini,Indonesia.
Sayang, Pajak bukan diekspos
karena keberadaannya yang mampu menghidupi lebih dari 75% kebutuhan negeri ini
yakni sekitar 800 Trilliun per tahun, tapi Pajak diekspos karena
kepincangan-kepincangan yang dikarenakan para pegawainya. Tak usah dijelaskan
pun ketika seorang mendengar kata Pajak maka ia akan menggeneralisasikannya
dengan penyakit lama negeri ini,KORUPSI. Mungkin itu wajar. Mereka kesal dan mereka
marah pada Pajak dan tentunya para pegawainya juga. Ini semata-mata bukan
berarti mereka benci,tapi sebaliknya mereka sayang mereka merindukan negeri
yang gemah ripah loh jinawi, penuh
kesejahteraan dan kemakmuran di setiap sudut negeri.
Tak
khayal, banyak pejabat yang mengambil jalan cepat mencapai tujuan meski sudah
ada standar operating procedures(SOP)
yang begitu komprehensif disetiap tindakan.
Ini yang sebenarnya perlu dipertanyakan, kalau memang pejabat atau
pegawai pemerintahan ingin jalan yang lebih cepat,kenapa SOP-SOP ini tidak segera diperbaiki. Toh juga
banyak yang memotong alur SOP karena ada yang berpikir kalau ada yang pendek
dan cepat kenapa harus pakai yang panjang dan lama. Dewasa ini, persoalan yang
mungkin sepele ini tidak bisa lagi dijadikan pekerjaan rumah seperti yang selalu diungkapkan pers kepada
perbaikan pemerintah. Tidak ada lagi waktu untuk menunda-nunda setiap persoalan
di negeri ini. Kalau SOP saja inginnya yang cepat,kenapa seringkali
memperpanjang dan menunda setiap penyelesaian permasalahan-permasalahan.
Peran
bangsa pun sangat diperlukan disini, acapkali mereka melalaikan apa yang
menjadi harapannya. Mereka bertindak hal-hal kecil diluar yang seharusnya.
Mereka berseru di jalan-jalan No more
corruptors! Stop corruption! ,tapi apa yang terjadi ketika mereka gagal
menerima surat izin mengemudi? Mereka yang memulai memberikan sepotong ikan
segar kepada kucing rumah yang setiap harinya hanya makan sereal. Ya
tepat,mereka tidak korupsi tapi mereka menyuap. Bukankah itu sama halnya? Tapi
yang paling menyeramkan dari bangsa ini yang paling berbahaya adalah being late. Entah itu acara yang dibuat
sendiri maupun acara orang lain. Bahkan hal itu sudah menjadi label tersendiri
bagi bangsa Indonesia dimata dunia. Kecil tapi berarti.
Benci
atau sayang? Saya yakin, kita semua sayang Indonesia. Jangan hanya kata
‘sayang’ saja. Dalami rasa sayang itu. Bukan saatnya untuk selalu membenci negeri ini, bukan saatnya untuk mengutuknya
dengan cercaan-cercaan bodoh yang pada akhirnya hanya akan menunjukkan jati
diri bak melihat gambaran diri di cermin. Memang benar adanya bahwa suatu hal
besar itu selamanya bermula dari hal kecil. Diri sendiri adalah kunci perbaikan
bangsa ini. Dengan demikian sikaplah ‘attitude’ yang akan menjadi ujung,bukan
bakat,kepintaran,maupun kecerdasan ‘aptitude’ saja untuk menuju derajat
ketinggian ’altitude’ bangsa.
"
It is your attitude, not your aptitude that determines your altitude."
[Zig Ziglar]
Jauhkan rasa acuh,dendam,iri,dan pamrih. Tumbuhkan
keikhlasan,jujur,disiplin,dan saling menghargai. Bukankah sejak kita di sekolah
dasar selalu diajarkan ajaran moral tersebut?
No comments:
Post a Comment