Saudaraku, aku mau bercerita sejenak tentang kenaikan BBM yang sedang ramai dikicaukan orang. Tapi.aku mohon maaf kalau ide kita tak saling bersisian. Semoga tak terjadi pertikaian antara kita atas perbedaan yang ada.
Baiklah Saudaraku,
Lihatlah berita sejenak. Banyak yang turun ke jalan, menentang kenaikan BBM. Berupa-rupa almamater sudah memadati jalanan hendak menyuarakan suara rakyat.
"Batalkan kenaikan BBM!"
Aku tak menentang mereka yang turun ke jalan dan bersuara lantang itu. Aku mengapresiasi keberanian dan semangat perang mereka. Namun aku menyayangkan jika tak berlangsung lama setelah itu, suara-suara lantang berubah menjadi keributan, berujung menjadi bentrokan antarmereka dan aparat keamanan.
Media pun langsung menyoroti dan entah kenapa selalu terkesan bahwa aparatlah yang salah dalam hal ini. Padahal, siapa yang melempar batu duluan. Siapa yang menyulut api, membakar ban dan menutup jalanan.
Aku bukan menentang tapi sekedar memberi saran, sebenarnya rakyat yang mana yang sedang mereka perjuangkan. Rakyat yang ketakutan dan berdiam diri di dalam rumahnya saat kericuhan mereka di jalanan sembari di kejauhan melihat apakah mereka sudah tenang melalui pemberitaan. Atau rakyat yang ketakutan akan nasib anakny di pulau seberang padahal belum-belum BBM dinaikkan, BBM mereka justru sudah naik duluan. Akibat ulah para penimbun, BBM menjadi langka hingga harganya di pasaran menjadi hampir dua kali lipat harga yang sudah dinaikkan.
Rakyat yang mana yang mereka bela? Rakyat yang selama ini bermobil mewah tapi tetap memakai BBM murah atau rakyat yang selama ini diam-diam menyelundupkan BBM murah ke negeri sebelah, atau rakyat yang sedang berangsek merebut tampuk kekuasaan?
Awaas, hati hati Saudaraku. Jangan mudah diprovokasi. Lalu apa saranku kalau aku setuju BBM dinaikkan?
Gratiskan biaya pendidikan untuk semua anak Indonesia mulai dari TK hingga perguruan tinggi. Hentikan pendidikan sebagai komoditi. Buatlah ia bisa dinikmati oleh semua orang yang menginginkannya. Sekali pun belum bisa menggratiskannya, berikan ia kredit pendidikan dan pembayarannya nanti setelah ia selesai dan bekerja. Ide ini disampaikan oleh Pak Irwanda Wisnu Wardana. Dan saya setuju agar tak ada lagi anak Indonesia yang takut untuk melanjutkan pendidikannya di tempat yang ia inginkan karena terkendala masalah keuangan.
Semoga bermanfaat!

No comments:
Post a Comment