(Sebuah Surat dari Hendy prihambudi tk.2 Akuntansi)
Reformasi birokrasi adalah penataan kembali organisasi, yang diharapkan
dengan penataan tersebut tercipta suatu kondisi yang mendukung visi organsisasi tersebut. Sesuai dengan reformasi
birokrasi di Kementerian Keuangan - sebagai
kementerian pelopor reformasi birokrasi,
reformasi birokrasi dibagi menjadi tiga pilar utama; Organisasi, Proses
Bisnis, dan Sumber Daya Manusia. Untuk menjamin terciptanya reformasi
birokrasi, ketiga pilar tersebut harus membentuk kesatuan yang padu, dalam
artian, tidak bisa salah satunya ditinggalkan, dan kegagalan satu pilar,
merupakan kegagalan bagi pilar lainnya. Tanpa mengesampingkan dua pilar yang
lain, dalam esai ini penulis akan mengulas mengenai pilar ke tiga dari pilar
reformasi birokrasi, yaitu sumber daya manusia.
Dalam pembentukan organisasi dan proses bisnis, suatu sistem cukup menetapkan
tiga hal: penetapan tujuan, pembentukan standar operasional prosedur, dan
pengawasan. Ketika paling tidak tiga hal tersebut dipenuhi, setidaknya
organsisasi tersebut masih bisa “hidup” dan masih ada harapan untuk mewujudkan
tujuannya. Hal ini berbeda dengan penciptaan sumber daya manusia. Karakter
manusia yang berbeda-beda, kompleks, dan susah ditebak menjadikan tidak cukup
mudah bagi suatu organsiasi untuk mendapatkan kualitas sumber daya manusia yang
diinginkan.
Dalam Kementerian Keuangan, penciptaan sumber daya manusia yang baik
dilakukan dengan banyak hal, seperti pemberian insentif berupa tunjangan /
remunerasi, peningkatan disiplin dengan absen finger print,serta pelaksanaan diklat untuk meningkatkan
kompetensi. Hal-hal tersebut sudah dilakukan dengan cukup baik, terbukti
misalnya dengan peningkatan kedisiplinan pegawai yang terlihat dari semakin
berkurangnya jumlah pegawai yang membolos kerja dari tahun ke tahun. Namun,
seperti yang penulis sampaikan di atas, sumber daya manusia tidak semudah
dibentuk dengan penciptaan sistem organisasi. Di luar itu, sumber daya manusia
harus diperkuat dengan sistem internal dari individu tersebut. Sistem internal
tersebut biasa disebut sebagai mental ideogi.
Ketika seorang individu memiliki mental pekerja, ia akan bekerja
sungguh-sungguh meski atasannya tidak mengawasinya. Individu yang memiliki
mental profesional tidak akan menerima sesuatu yang bukan haknya. Begitu pula,
individu yang bermental kerja untuk uang, akan bersungguh-sungguh dalam bekerja
hanya jika pekerjaan tersebut akan memberikannya bonus pendapatan lebih,
sementara ia akan malas melakukan pekerjaan yang tidak “basah”.
Seseorang masih bisa mengakali suatu sistem organsisasi. Namun, seseorang
tidak bisa mengakali sistem yang ada dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu,
penulis berpendapat bahwa pembentukan mental merupakan sesuatu yang paling
esensial dari reformasi birokrasi. Mantan Menteri Keuangan, Sri Mulyani
Indrawati, juga pernah mengakui hal ini. Beliau menggambarkan seorang pemeriksa
pajak bisa jatuh mentalnya terlebih dahulu sebelum memeriksa pajak ketika ia harus
memeriksa seorang wajib pajak yang tinggal di rumah yang besar, banyak
mobilnya, serta dijaga dengan banyak satpam. Mentalnya yang telah jatuh melihat
hal tersebut akan menurunkan kewaspadaannya serta menurunkan bargaining position ketika bernegosiasi.
Hal ini, dengan reformasi birokrasi,seharusnya tidak terjadi.
Beruntung, Kementerian Keuangan memiliki sekolah kedinasan, STAN. Menurut
penulis, disinilah pembentukan mental untuk mendukung reformasi birokrasi dapat
mulai dilakukan. Mahasiswa yang belum terdoktrin oleh sistem lama, dapat
dibentuk sedemikian rupa untuk memantapkan ideologi positif. Hal ini dapat
dilakukan dengan banyak cara, seperti pembinaan organisasi kemahasiswaan,
pengadaan dosen yang sanggup menjadi motivator bagi mahasiswa, serta bimbingan
konseling. Penulis berharap, semoga potensi STAN sebagai pembentuk mental
ideologi dapat dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan untuk menyukseskan
reformasi birokrasi. Sekali lagi, mental ideologi lah yang akan menjamin bahwa
ketiga pilar reformasi birokrasi dapat ditegakkan dan tidak “diakali”, karena
seseorang akan merasa sangat tersiksa ketika ia harus mengkhianati ideologinya
sendiri.
No comments:
Post a Comment