Tuesday, March 20, 2012

Memperbaiki, Bukan Mengecam !

(Sebuah Surat dari Meini Wahyu Utami Tk.2 KBN )

“Apa-apaan INDONESIA ini,bisanya cuma demo,bakar-bakaran!”
“Ngapain juga ngabis-ngabisin APBN buat rapat bikin peraturan,wong kalo udah jadi juga dilanggar”
“Udaah,kita kan rakyat kecil,mana mau NEGARA ng dengerin keluhan kita?”
“BIROKRASI udah semrawut gini,mana bisa diperbaiki?,beuh”
“Ada ga si INSTANSI yang ga kotor?”
Tidak asinglah mendengar ungkapan-ungkapan semacam ini,hampir tiap hari di sembarang tempat,tak peduli kalangan manapun sering mengucapkan kalimat-kalimat ini.Oh ya saya jadi tertarik untuk bercerita,beberapa minggu yang lalu,hari selasa kalau tidak salah,saya lupa tanggalnya,seperti hari biasanya saya masuk kuliah.Kuliah pagi dari jam delapan sampai jam setengah sebelasan,mendadak ternyata hari itu ada kuliah pengganti jam setengah dua siang,karena jarak kos dan kampus lumayan jauh dan hari itu lumayan panas,maka aku memilih istirahat di masjid depan kampus.
“Eh masya Allah ada si embak,assalamu’alaykum”mbak wiwik petugas masjid senyum dan bersalaman denganku
“Wa’alaykumsalam warahmatullah mbak”,kubalas senyumnya
Karena sudah selesai bersih-bersih,mbak wiwik ini mengajakku bertukar cerita,sampai lapar di perutku memberikan sinyal.
“Makan dulu yuk mbak”,ajaknya
“Oh iya mbak saya nanti aja”,jawabku masih sambil berpikir-pikir mau makan siang atau tidak
“Yaudah saya duluan ya mbak mei,nanti nyusul aja”..senyum sambil berlalu
Cukup lama aku di dalam masjid,akhirnya kuputuskan untuk membeli makan siang.Kulirik uang di saku kemeja,lupa bawa atau tidak dan masih cukup atau tidak.Kupilih membeli siomai yang letaknya paling dekat dengan masjid,relatif terjangkau dan semoga higienis. Ternyata Si mbak dan teman-teman beliau memilih makan siang di warung tenda.Kudekati bapak penjual siomay tersebut memesan satu porsi untukku,disana juga ada bapak-bapak lain yang tengah duduk.Salah satu bapak bertubuh tambun tersenyum dan mempersilakanku duduk,”sini dek duduk sini”,”oh iya pak terimakasih”,kataku sambil membalas senyum beliau.
”Sekolah dimana dek?”,
”Saya sekolah di sini pak”,kutunjuk gedung kampus,

“Oh sudah kuliah to adek ini,bapak kira masih pelajar,heee”,tertawa,
“Hehe,iya pak saya kuliah di sini”,oalah selalu begitu,mengira aku masih anak SMP atau SMA,membatin.
“Semester berapa dek,ambil jurusan apa?”,bapak itu sambil senyum-senyum santai.
“Alhamdulillah saya semester tiga pak,di kebendaharaan negara”,ku ambil kursi yang disediakan dan duduk di situ.
“Wah nanti kaya Ga**s dong”,beliau menyebut salah satu tokoh alumni kampus yang saat ini tengah banyak dibicarakan.
Aku tersenyum”hehe,insya Allah itu masing-masing pak,tergantung orangnya”,
“Hahaha iya-iya benar,nanti kalau sudah jadi pejabat jangan kaya Ga**s ya dek”
Kemudian bapak itu melanjutkan ke salon tenda depan masjid,tampaknya hendak memangkas rambut.”silakan mbak”,bapak siomay mengulurkan sepiring siomay yang sudah jadi untukku.
Umpatan-umpatan di awal,kata-kata si bapak ini sudah sangat biasa dan bukan tanpa dasar,mereka berbicara demikian karena melihat berita-berita di media,atau mengalami sendiri,lalu menyimpulkan,tentunya tak terlepas dari pendapat subyektif.Tapi terserah mereka mau mengumpat apa,mengumpat dengan ide sendiri,atau hanya ikut-ikutan,namun yang jelas NEGARA,BIROKRASI,INDONESIA,dan INSTANSI apapun tidak salah,itu menurutku.
Kenapa begitu?,mana mungkin kita menyalahkan benda mati,mereka dibentuk,bukan membentuk,mereka dikendalikan,bukan mengendalikan.Negara itu terbentuk karena adanya benda hidup,manusia.Instansi terbentuk karena adanya kebutuhan untuk menyusun kesejahteraan masyarakat,manusia juga.Dan birokrasi ada,di dalamnya dikendalikan oleh “birokrat”,manusia juga,,benda hidup semua kan?.Jadi,jika sekarang kita merasa kondisi negara,khususnya birokrasi indonesia belum teratur atau makin tidak teratur,yang perlu dikoreksi adalah benda hidupnya,pelaksana birokrasi.
Good Governance tidak dapat muncul dengan sendirinya,dibutuhkan kemauan dan kekompakan dari seluruh pihak untuk mewujudkannya.Alangkah baiknya jika setiap pihak dapat mengintropeksi diri,menyadari peran masing-masing,pejabat negara selaku birokrat harus memiliki akuntabilitas tinggi,cenderung terbuka atau transparan kepada rakyat,memberikan contoh yang baik,dengan cara menegakkan peraturan dan tidak menutup-nutupi kesalahan,Dewan selaku wakil rakyat yang mengemban amanah rakyat sudah semestinya membuat keputusan yang dapat mengayomi kepentingan semua pihak, mendukung aspirasi penting dari yang diwakilinya,bukan menuruti apa yang menurut mereka sendiri penting.Sementara itu masayarakat sebagai penerima kebijakan juga tidak semata-mata mengecam,mengadili dengan emosinya,dan mengolok-olok,karena masyarakat itu akar,bukan ranting,masyarakat pada dasarnya adalah penentu(ingat lagi semboyan “dari,oleh,dan untuk rakyat”)yang berhak atas kesejahteraan,sehingga ketika melihat ada penyimpangan dalam upaya pelaksanaan good governance,masyarakat harus mampu berpartisipasi memberikan masukan kepada pemerintah,tentang apa-apa yang salah dan diperbaiki,tak lupa juga memiliki tugas untuk terus membangun dirinya sendiri.Saya rasa tidak perlu ada eyel-eyelan benar-salah.Karena seperti yang sudah disinggung,sebenarnya salah satu inti dari good governance adalah akuntabilitas, transparansi dan partisipasi. Akuntabilitas merupakan suatu pertanggung jawaban, akuntablitas tanpa transparansi adalah suatu penipuan, dan transparansi tanpa partisipasi adalah suatu pembodohan. Semua faktor adalah mata rantai yang tak terpisahkan. Jika ketiga hal ini dapat kita laksanakan dengan baik, otomatis faktor lain akan mengikuti dan bersinergi menuju indonesia yang lebih baik.."
Indonesia LEBIH BAIK??..Insya Allah bisa ..Semangat Indonesiaku

No comments:

Post a Comment