(Sebuah Surat dari Tri Aryawan, Mahasiswa STAN)
Maaf jika ada yang tersinggung dengan pemilihan judul saya.
Banyak dari masyarakat sekarang ini memandang dari satu sisi saja, korupsi
tidak dibenarkan dan harus diberantas. Tapi, apakah kita pernah melihat dari
sisi lain, sisi paling mudah sekaligus paling sukar untuk dilihat, diri kita
sendiri. Tak usah banyak menghujat koruptor jika diri kita sendiri korup.
Korupsi itu bukan hanya penggelapan uang negara. Mari kita ingat lagi,
pernahkah anda datang terlambat ke sebuah acara atau pulang lebih cepat? Pernahkah
anda memarkuppermintaan uang kepada
orang tua? Atau berbohong bahwa anda harus beli buku disaat ternyata uang itu
anda pakai beli barang lain? Jika anda bertanya kepada saya, maka saya akan
menjawab “ya, saya pernah melakukannya dan saya malu melakukannya”. Korupsi
waktu dan uang jajan tetaplah sebuah korupsi kawan.
Berhentilah bermunafik ria, disaat anda berteriak lantang
hapus korupsi di negeri ini, hukum mati para koruptor, tapi diri anda sendiri
tanpa anda sadari telah menjadi seorang koruptor. Pantaskah seorang koruptor
menghujat “kawan”nya sendiri. Bahkan sesama sopir bis pun dilarang saling
mendahului, masa sesama koruptor saling menghujat, bisa dianggap sebagai
koruptor yang tidak berperikekoruptoran.
Banyak kawan-kawan mahasiswa yang
berteriak anti korupsi, tapi apa mereka sendiri yakin dapat menjaga integritas
itu saat bekerja bahkan sampai tua. Saya yakin bahwa koruptor-koruptor itu dulu
saat mahasiswa juga pernah, meski hanya sekali, mengatakan bahwa tidak akan
melakukan korupsi.
Faktor lingkungan pun turut berjasa membentuk anda menjadi
sorang koruptor. Pasti anda pernah mendengar cerita orang yang disuruh untuk
melakukan korupsi oleh atasannya, dan jika tidak mau maka dia akan dikucilkan.
Bagaimana anda menyikapi hal seperti itu? Ikut arus atau menentang arus? Dosen
saya dulu pernah berkata “ikuti arus tapi jangan sampai terbawa arus!” tapi
semua kembali ke diri kita masing-masing. Boleh kita mengusulkan perbaikan SDM
dengan cara ini itu dalam rangka pemberantasan korupsi, tapi apakah kita telah
memandang ke diri kita sendiri?
Jika anda membaca guratan ini masih tersenyum kecil dan
merasa malu, meski itu hanya di dalam hati. Bersyukurlah kawan, itu berarti
anda masih diberi hati yang lembut. Namun, jika anda menganggap tulisan ini
hanya omong kosong belaka. Selamat kawan, anda merupakan seorang calon koruptor
yang handal, karena hati anda telah sekeras batu. Saya akan menyadur perkataan
seorang kyai, mulai dari diri sendiri mulai dari yang kecil dan mulailah dari
sekarang untuk tidak melakukan korupsi.
El Three

Bagus..lebih jernih
ReplyDeletenice
ReplyDelete